Suamiku, empat bulan sudah berlalu. Masih
teringat jelas di dalam memori otakku detik-detik bahagia itu. Detik di
mana malaikatpun ikut mendoakan kita. Detik di mana gerbang kebahagiaan
akan kita lewati dengan ikatan perjanjian yang kuat. Mahligai akan kita
bangun dengan kekuatan cinta. Mahligai yang meski sederhana, namun kokoh
dan meneduhkan. Engkau sebagai raja yang arif dan perkasa melindungi
dari setiap serangan. Dan aku adalah ratu yang lembut, senantiasa
memberi cinta dan kedamaian serta menjaga singgasana kita.
Suamiku, empat bulan kita lalui penuh
kebahagiaan. Namun sayang, kita tidak boleh berbangga diri. Jalan di
depan kita masih panjang. Satu bulan hanya masa perkenalan, seperti
halnya bunga krisan yang beradaptasi di lingkungan barunya.
Empat bulan hanya masa yang singkat,
karena sepanjang usia kita pun takkan bisa benar-benar mengenal dua
pribadi yang berbeda. Empat bulan hanya titik awal kita memulai
perjalanan ini. Ingatlah suamiku, perjalanan kita nantinya tidak selalu
semulus yang kita rencanakan. Akan banyak kejutan dari-Nya yang bisa
membuat kita tersenyum, tertawa, menangis, bahkan terluka. Namun, jangan
sampai gentar suamiku sayang. Tetaplah tegar dan kuat menghadapinya.
Karena kita kan selalu bersama, berusaha bersabar dan mengambil hikmah
di setiap kejutan itu.
Ingatkah engkau sayangku. Nasehat bijak
dari orang tua kita? Beliau tak lebih tinggi pendidikannya dari kita.
Namun, mereka telah melalui perjalanan yang panjang. Telah banyak bunga
dan duri yang mereka temui. Dan pastinya, mereka lebih banyak mengambil
hikmahnya. Maka suamiku, mari kita renungkan nasehat tersebut. Sama-sama
kita perbanyak bekal dalam perjalanan panjang kita.
Sayang, aku ingin selalu menjadi bidadari
untukmu. Tidak hanya di dunia sekarang, tapi juga sampai ke surga Allah
kelak. Maka, tak akan mudah seperti yang ku bayangkan untuk
mencapainya. Dinda juga perlu bantuan dan dukunganmu, wahai suamiku.
Ingatkanlah dengan tegas setiap kesalahanku namun dengan kelembutanmu.
Karena isterimu ini hanyalah tulang rusuk mu yang bengkok. Jangan kau
paksakan meluruskannya, karena ia akan patah. Tapi jangan juga kau
biarkan karena ia akan selamanya bengkok. Bimbinglah isterimu ini untuk
meraih ridho dari mu dan terutama ridho dari Allah.
Ketahuilah suamiku, aku hanyalah manusia
biasa yang jauh dari sempurna. Begitu juga dengan dirimu. Aku hanya
wanita yang bisa rapuh. Begitu juga engkau hanya lelaki biasa yang bisa
menjadi khilaf. Kita hanya pribadi yang mempunyai ego masing-masing.
Kita bisa mengajukan semua logika untuk merancang masa depan surga kita.
Namun, kita tidak berdaya dengan kuasa-Nya. Hanya kekuatan doa lah yang
bisa membantu kita. Hanya kesederhanaan pemikiran kita tentang sabar
dan syukur yang bisa menyelamatkan kita.
Jangan pernah takut sayang, jika suatu
saat badai datang menerjang kapal kita. Aku kan selalu mendampingimu
melawan badai itu. Luruskan arah dan kembangkan layar, aku kan
membantumu dengan kompas penunjuk arah yang benar. Tetaplah tabah
menghadapinya karena badai itu kan mendewasakan kita hingga nantinya
kita sampai ke pulau impian itu. Karena Allah tidak akan menguji kita di
luar kesanggupan kita. Yakinlah akan ada terang setelah gelap malam.
Kuatkanlah desain kapal kita agar anak-anak kita nantinya tetap aman di
dalamnya meski kita menghadapi goncangan. Persiapkanlah untuk mereka
pendidikan akhlak yang terbaik sehingga mereka bisa meguhkan perjuangan
kita dan menguatkan dengan doa.
Tak banyak lagi kata-kata yang bisa
kutuangkan dalam surat ini, suamiku. Karena kata takkan cukup
menceritakan tiap hal yang akan kita temui. Hanya sebait puisi
kesayanganku yang bisa kuselipkan di akhir surat ini.”Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat disampaikan
kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan
sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.” (Sapardi Djoko Damono)
Sekian surat dari ku untukmu suamiku.
Kutitipkan doa di dalam blog ini, dan akan kkirim dengan penuh cinta
kasih sayang hanya untukmu.
Dari wanita tak sempurna yang sedang belajar menjadi perhiasan dunia untukmu, sebagai isteri sholeha.
Bumi Allah, tepat empat bulan pernikahan kita……………………………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar